Sidang Kasus Sajam Aksi Penolakan UU Omnibus Law,  Kuasa Hukum Terdakwa Sebut Saksi Plin Plan Saat Memberikan Keterangan

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum Melati dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Samarinda, menghadirkan dua orang saksi Polisi dari Polresta Samarinda. Keduanya bernama Jon Wahyudi dan Mahrudin.

Sidang Kasus Sajam Aksi Penolakan UU Omnibus Law,  Kuasa Hukum Terdakwa Sebut Saksi Plin Plan Saat Memberikan Keterangan
Suasana persidangan kasus kepemilikan sajam pada aksi UU Omnibus Law yang kembali digelar dan memanas pada sore kemarin

RUBRIK.ID, SAMARINDA - Sidang perkara dugaan membawa senjata tajam dalam aksi unjuk rasa penolakan Undang-undang (UU) Omnibus Law atau Cipta Kerja kembali berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda, pada Rabu (24/2/2021) sore kemarin.

Sidang menghadirkan terdakwa Firman Rhamadan melalui sambungan virtual sebagai pesakitan.

Lantaran sedang menjalani masa tahanannya di Rumah Tahanan Klas II A Samarinda.

Di dalam persidangan beragenda pemeriksaan saksi, Firman didampingi empat Kuasa Hukumnya. Mereka adalah Fathul Huda, Zaini Afrizal, Bernard Marbun dan Hirson Kharisma.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum Melati dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Samarinda, menghadirkan dua orang saksi Polisi dari Polresta Samarinda. Keduanya bernama Jon Wahyudi dan Mahrudin.

Disampaikan sebelum persidangan dimulai. Bahwa kedua saksi ini merupakan aparat kepolisian yang berhasil mengamankan Firman. Lantaran kedapatan membawa sajam pada aksi unjuk rasa berujung ricuh pada 5 November 2020 silam.

"Dengan ini, perkara atas dugaan membawa sajam kembali dipersidangkan dan dibuka secara umum," ucap Ketua Majelis Hakim Edy Toto Purba sembari mengetuk palu persidangan, dengan didampingi Agus Raharjo dan Hasrawati Yunus sebagai hakim anggota.

Saat persidangan dimulai, disepakati bahwa kedua saksi dimintai keterangannya secara bergantian. Untuk saksi pertama adalah Jon Wahyudi.

Oleh majelis hakim, Jon sapaan karibnya, diminta untuk menyampaikan kronologis singkat perihal penangkapan terhadap terdakwa Firman yang diduga membawa sajam.

Jon menyampaikan bahwa kala itu sedang terjadi aksi unjuk rasa penolakan UU Omnibus Law di DPRD Kaltim Jalan Teuku Umar, Kecamatan Sungai Kunjang.

Jon yang kesehariannya bertugas sebagai tim Buser, saat itu ditugaskan oleh atasannya. Untuk mengawasi aksi unjuk rasa yang tengah berlangsung.

"Saya ditugaskan hanya untuk mengawasi adek-adek mahasiswa yang sedang berdemo," ungkapnya didalam persidangan.

Aksi demonstrasi awalnya berjalan damai, namun ketika waktu memasuki pukul 18.00 Wita, terjadi gesekan antara aparat kepolisian yang sedang bertugas jaga dengan massa aksi.

Pasalnya, saat itu masa aksi memaksa menyeruduk masuk kedalam halaman DPRD Kaltim yang sedang di jaga ketat oleh petugas.

Gerbang setinggi empat meter yang sedari tadi tertutup rapat, mulai berusaha dirobohkan oleh pendemo. Hingga akhirnya aparat kepolisian terpaksa menyemburkan air dari mobil watercanon.

Massa tak begitu saja menyerah. Segala cara dilakukan, agar dapat memasuki areal Kantor Dewan di Karang Paci itu.

Hingga akhirnya gerbang setinggi empat meter itu pun nyaris roboh. Polisi langsung mengambil tindakan tegas, dengan menembakkan gas air mata ke udara.

Akibatnya, masa langsung lari tunggang langgang. Disisi lain polisi berpakaian sipil, langsung mengambil kesempatan untuk mengamankan satu persatu para peserta aksi yang dianggap bertindak anarkis.

Di tempat terpisah, melihat rekan mereka diciduk petugas. Firman bersama lima rekannya tergerak maju.

Mereka berusaha menyelamatkan rekannya yang sudah tertangkap.

Tanpa disadari, dari arah belakang Firman disergap oleh petugas bernama Reno. Firman yang diamankan dengan cara dipiting pun sempat melakukan perlawanan.

"Saat diamankan anggota, ada yang terjatuh dari tubuhnya (Firman).

Kemudian saya dengar ada yang teriak badik. Lalu saya ambil untuk diamankan, dan saya bawa sambil ikut mengamankan saudara Firman," terangnya.

Majelis hakim kemudian mempertanyakan jarak antara saksi Jon dengan Firman beserta letak Sajam yang ditemukannya.

"Jarak saya saat Firman diamankan anggota, itu persisnya antara saya dengan hakim saat ini. Sekitar tiga sampai empat meter," jawabnya.

"Benar anda melihat ada senjata tajam yang jatuh dari tubuh saudara Firman," tanya Ketua Majelis Hakim.

"Benar pak, jadi saat Firman diamankan langsung mau dibawa, tapi meronta. kemudian Sajam itu terjatuh.

Saat ada yang teriak (Badik) saya amankan, rekan saya sudah berjalan didepan, saya kemudian menyusul sambil mengamankan sajamnya," jawab Jon.

Lanjut Jon, setelah mendapatkan sajam yang jatuh tak jauh dari Firman diamankan. Ia dan rekannya Reno, langsung membawa Firman masuk kedalam halaman DPRD Kaltim.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, Majelis Hakim kemudian mempersilahkan Kuasa Hukum Firman untuk bertanya kepada saksi.

Namun terjadi ketegangan saat tanya jawab terjadi diantara mereka.

Singkat musababnya, saat itu Jon yang ditanya oleh salah satu Kuasa Hukum Firman sempat mengaku, bahwa tak melihat sajam itu terjatuh dari tubuh Firman.

Melainkan baru mengetahui, bila ada sajam yang tergeletak diatas jalan setelah mendengar teriakan dari seseorang.

"Saya tidak melihat jatuhnya, saat itu disekeliling semua anggota (polisi). Kemudian ada yang teriak sajam. Lalu saya amankan. Dan membantu rekan saya Reno sambil mengamankan Firman masuk ke halaman DPRD," ucap Jon ketika didesak Kuasa Hukum Firman.

"Berarti anda tidak bisa memastikan bahwa sajam itu milik Firman," timpal Hirson Kharisma Kuasa Hukum Firman.

Namun Jon kembali menjawab dan memastikan bahwa sajam tersebut milik terdakwa Firman.

"Karena jatuhnya itu dibawah saat Firman diamankan," tegas Jon.

Lagi-lagi, Hirson kembali menegaskan pernyataan Jon yang saat itu tengah memberikan kesaksiannya.

"Bagaimana anda bisa memastikan, kalau anda saja tidak melihat kalau sajam itu benar-benar terjatuh dari badan Firman," tanya Hirson dengan tegas.

"Disekeliling itu tidak ada orang lain, hanya ada anggota (Polisi). Dan ditemukannnya sajam saat saudara Firman diamankan dan berusaha melawan," tegas Jon lagi.

"Iya bagaimana anda bisa memastikan, bisa saja sajam itu dari polisi. Polisi menggunakan narkoba saja bisa," timpal Hirson lagi.

Ditengah ketegangan yang terjadi, Ketua Majelis Hakim langsung menengahi keduanya dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada saksi Jon.

"Jadi saudara saksi melihat tidak saat Sajam itu jatuh dari tubuh terdakwa," tanya Ketua Majelis Hakim.

"Saya tidak melihat persis jatuhnya dari tubuh Firman. Tapi melihat ada yang jatuh saat Firman diamankan. Dan ada yang teriak 'badik'," jawab Jon.

Setelah mendengarkan pernyataan saksi, Ketua Majelis Hakim langsung kembali mengoreksi keterangan yang ada didalam BAP. Disebutkan bahwa saksi Jon yang telah dimintai keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), pada point kelima memberikan kesaksian, bahwa melihat sajam jatuh dari tubuh Firman ketika diamankan.

"Ini keterangan anda di dalam BAP benar tidak," tegas Ketua Majelis Hakim.

"Benar yang mulia," timpal Jon.

"Jadi yang mana, yang benarnya. Melihat (Sajam jatuh dari tubuh Firman) langsung atau tidak," tanya Ketua Majelis Hakim lagi.

"Saya lupa pak Hakim, karena itu sudah lama sekali," ucap Jon sembari memastikan bahwa keterangannya didalam BAP adalah benar adanya.

"Jadi keterangan sama seperti yang ada didalam BAP ya," tanya ketua Majelis Hakim.

"Siap yang mulia, benar," jawab Jon kembali.

Setelah mendengarkan keterangan dari Saksi Jon. Ketua Majelis Hakim kemudian memberikan kesempatan kepada terdakwa Firman untuk menanggapi atas kesaksian yang disampaikan oleh saksi.

"Terdakwa, bagaimana ? Apa benar yang telah disampaikan saksi," kata Ketua Majelis Hakim.

"Tidak benar yang mulia," jawab Firman.

"Jadi apa yang disampaikan saksi tidak benar ya. Bagaimana saksi, masih sama dengan apa yang telah disampaikan?," Ucap Ketua Majelis Hakim.

"Tetap sama yang mulia," Tutup Jon yang memilih tidak menambahkan pernyataan lagi diruang sidang.

Setelahnya, giliran saksi Mahrudin yang dimintai keterangan oleh Majelis Hakim. Singkat cerita, Mahrudin yang kala itu ditugaskan untuk mengawasi jalannya aksi, mengaku sangat jelas melihat ada sajam yang terjatuh dari tubuh Firman ketika sedang diamankan oleh petugas bernama Reno.

"Saat diamankan, saudara Firman meronta. Kemudian saya melihat ada sajam terjatuh dari tubuhnya sebelah kiri. Jatuhnya kedepan," ungkapnya menjawab pernyataan Ketua Majelis Hakim.

"Posisi saya saat itu sejauh lima sampai empat meter, didepan Firman saat diamankan," sambungnya.

Lanjut Mahrudin menerangkan, setelah sajam terjatuh dari tubuh Firman. Ia melihat saksi Jon langsung mengamankan sajam yang terjatuh itu.

"Saat diamankan, sarungnya Sajam terjatuh. Lalu saya yang ambil, kemudian saya bawa, saya kasihkan ke Jon untuk dibawa ke dalam halaman DPRD Kaltim," tegasnya.

Namun pernyataan dari Mahrudin itu lagi-lagi dibantah oleh terdakwa Firman ketika diberikan kesempatan menanggapi oleh Ketua Majelis Hakim.

"Tidak benar yang mulia," tegas Firman.

"Bagian mana yang tidak benarnya," tanya ketua majelis hakim.

"Saya tidak melihat ada saksi saat saya diamankan," singkat Firman.

"Saudara saksi masih dengan keterangan yang sudah disampaikan tadi," ucap Ketua Majelis Hakim.

"Siap, tetap sama yang mulia," tegas Mahrudin.

Setelah mendengarkan keterangan dari kedua saksi, sidang pun ditutup dan akan kembali dilanjutkan pada Rabu (3/3/2021) mendatang. Masih dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Sebelum ketua majelis hakim menutup persidangan, kuasa hukum terdakwa sedikit menyampaikan pernyataan.

"Hanya ingin menyampaikan, bahwa kita menilai keterangan saksi ini dari fakta persidangan. Jadi apa yang disampaikan didalam persidangan, itu. Bukan mempertegas keterangan apa yang ada didalam BAP," tutup Fathul Huda Kuasa hukum terdakwa.

"Baik, sidang kita lanjutkan Rabu depan. Dengan agenda pemeriksaan keterangan saksi, sidang ditutup," tandas Ketua Majelis Hakim sembari mengetuk palu persidangan.

Ditemui usai persidangan, Fathul Huda kuasa hukum terdakwa menyampaikan, bahwa saksi sangat plin plan saat memeberikan keterangan.

"Kami pun percaya, dan menganggap bahwa sajam itu benar-benar bukan milik terdakwa," ungkapnya.

Selain itu, ia menyangkan tindakan majelis hakim yang terkesan tidak netral. Pasalnya, pada saat saksi Jon menyampaikan tidak melihat sajam terjatuh dari tubuh terdakwa Firman. Ketua majelis hakim justru menegaskan kepada saksi agar tetap menyampaikan keterangan seperti yang ada didalam BAP.

"Makanya saya sampaikan diakhir tadi, bahwa fakta persidangan itu adalah apa yang disampaikan didalam persidangan. Bukannya dari BAP," pungkasnya. (*)