Rusia Bergejolak, Ramai-ramai Tolak Vladimir Putin Jadi Presiden Seumur Hidup

Muncul gejolak demonstrasi di Rusia, masyarakat menolak reformasi konstitusi yang bisa membuat Vladimir Putin berkuasa jadi Presiden seumur hidup.

Rusia Bergejolak, Ramai-ramai Tolak Vladimir Putin Jadi Presiden Seumur Hidup
Presiden Rusia, Vladimir Putin (The News Blender)

RUBRIK.ID - Berikut ini berita Internasional yang disajikan RUBRIK.ID tentang gejolak di Rusia, demonstrasi tolak Vladimir Putin jadi Presiden seumur hidup.

Langkah Vladimir Putin menjadi Presiden seumur hidup di Rusia tak berjalan mulus.

Masyarakat Rusia ramai-ramai menentang reformasi konstitusi yang bisa mengukuhkan kekuasaan Vladimir Putin di negara bekas Uni Soviet itu.

Demonstrasi menentang kekuasaan Vladimir Putin tumpah di Rusia, (Rabu/15/2020) waktu setempat.

Setidaknya puluhan orang ditangkap dalam aksi unjuk rasa yang menentang reformasi konstitusi, di mana Vladimir Putin diberi kesempatan untuk berkuasa menjadi presiden selama 16 tahun.

Ada sekitar 500 demonstran, yang banyak di antaranya menggunakan masker bertuliskan "tidak", menyerukan agar Vladimir Putin mundur dari jabatannya, sambil mengangkat spanduk berisi penentangan reformasi konstitusi.

Polisi mengepung mereka dan mulai melakukan aksi penangkapan pada malam hari, setelah para peserta mulai melakukan pawai menuruni salah satu jalan utama kota.

Lengkap dengan seragam anti huru-hara pasukan polisi menarik mundur para demonstran dan memasukan mereka ke dalam mobil polisi.

Melansir Reuters pada Kamis (16/7/2020), berdasarkan laporan dari kelompok hak asasi manusia Rusia, OVD-info, ada lebih dari 100 orang yang ditahan dalam aksi unjuk rasa tersebut.

Sementara itu, tidak ada konfirmasi segera dari pihak kepolisian mau pun pihak pemerintah terkait adanya penangkapan terhadap sejumlah orang tersebut.

Pada awal bulan ini, pemungutan suara telah dilakukan untuk mengamendemen konstitusi, yang digunakan untuk memberikan hak kepada Vladimir Putin mencalonkan diri sebagai presiden lebih dari 2 periode. 

Presiden Rusia, Vladimir Putin (slate.com)

Suatu langkah yang menjadi tanda kemenangan bagi Kremlin.

Aktivis oposisi mengatakan pemungutan suara yang berlangsung tidaklah sah, dan memang sudah saatnya Vladimir Putin mundur menjadi Presiden, di mana sudah 2 dekade ia menjabat sebagai Presiden dan Perdana Menteri.

Seorang peserta aksi unjuk rasa mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam aksi unjuk rasa ini adalah untuk menentang reformasi konstitusi.

"Saya datang ke sini untuk menandatangani petisi menentang reformasi konstitusi karena saya seorang nasionalis," kata seorang pria berusia 40 tahun.

Pria yang memakai kaus hitam ini dalam aksinya berteriak, "Putin adalah pencuri".

Sementara, peserta unjuk rasa lainnya bernama Vasilisa mengatakan bahwa ia ikut dalam aksi unjuk rasa dan menandatangani petisi karena Vladimir Putin, “yang harus disalahkan atas kemiskinan di negara kita”.

Perempuan 14 tahun ini juga berkata, "Orang gay terbunuh di sini, wanita dipukuli di sini, dan tidak ada yang pernah dimintai pertanggungjawaban."

Pekan lalu, 2 aktivis Rusia yang terlibat dalam kampanye menentang reformasi konstitusi ditahan, dan ada 5 orang aktivis lainnya yang rumahnya digeledah.

Tindakan itu dilakukan menjelang rencana aksi unjuk rasa, yang saat itu belum disetujui oleh pihak berwenang.

Di Rusia, ditetapkan bahwa pertemuan massal dilarang dilakukan di ibu kota, karena pembatasan penyebaran Covid-19.

Bahkan, di waktu normal, unjuk rasa lebih dari 1 orang memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari pihak berwenang.

(*)

Artikel ini bersumber dari Kompas.com dengan judul "Protes Amendemen Konstitusi Rusia, 'Putin Harus Disalahkan atas Kemiskinan di Negara Kita'", https://www.kompas.com/global/read/2020/07/16/143822270/protes-amendemen-konstitusi-rusia-putin-harus-disalahkan-atas-kemiskinan?page=all#page2.
Editor : Miranti Kencana Wirawan