Psikolog Samarinda Beri Penjelasan Soal Kekerasan Terhadap Anak Meningkat, Ini Penyebabnya

Salah satunya tingkat stres orangtua yang bersumber dari himpitan ekonomi

Psikolog Samarinda Beri Penjelasan Soal Kekerasan Terhadap Anak Meningkat, Ini Penyebabnya
Ilustrasi kekerasan terhadap anak yang terus meningkat sejak pandemi merebak di tanah air, tak terkecuali di Samarinda/shutterstock.com-tempo.co

RUBRIK.ID, SAMARINDA - Sejak virus corona alias Covid-19 ditetapkan sebagai pandemik dunia, pembatasan aktivitas masyarakat di dalamnya menjadi sangat terbatas.

Bahkan anjuran tak keluar rumah terus disuarakan pemerintah Indonesia tak terkecuali juga di daerah. Meski bertujuan memutus mata rantai pandemi, namun hal tersebut juga berbanding lurus dengan tingkat kekerasan terhadap anak. 

Banyak faktor yang mengambil peranan terhadap kasus ini. Salah satunya tingkat stres orangtua yang bersumber dari himpitan ekonomi.

Menjawab perihal tersebut, Psikolog Samarinda, Ayunda Ramadhani mengatakan kepedulian lingkungan adalah hal utama menanggulangi kasus kekerasan terhadap anak yang kerap terjadi, dan terbilang meningkat di tengah wabah pandemi saat ini. 

"Bicara KDRT dalam situasi normal pun sangat sulit. Karena dibutuhkan kesadaran dari individu itu sendiri. Apabila cukup umur dia bisa melapor, tapi kalau dia anak-anak butuhkan bantuan orang dewasa," kata Ayunda, Minggu (26/7/2020) saat dikonfirmasi. 

"Jadi yang bisa disarankan sementara dalam kondisi seperti ini adalah peran keluarga saling menjaga," sambungnya. 

Menurut Ayunda, saat pandemi saat ini data dari kementerian pusat juga berkata demikia. Kasus kekerasan dalam rumah tangga memang meningkat selama pandemi. Terlebih, tuntutan tetap berada di rumah saat ini. 

"Nah hal ini yang meningkatkan resiko terjadinya tindak kekerasan. Salah satunya pencabulan itu. Pencabulan juga masuk tindak kekerasan dalam rumah tangga. Jadi sebenarnya memang ada korelasinya," tegasnya. 

Faktor berdiam dirumah selama pandemi tentu menjadi penyumbang pasti meningkatnya kekerasan tersebut.

Karena para pelaku dengan korban berada dalam satu ruangan dengan intensitas tinggi.

Dengan frekuensi sering bertemu. Jadi memang keadaan sekarang memang sangat bisa memunculkan resiko terjadinya KDRT. 

"Karena pertama, tidak bisa keluar rumah. Dirumah ketika memang suasana rumah itu tidak kondusif, bisa memicu adanya agresifitas. Yang bisa terjadi pada tindakan kekerasan, pencabulan atau pemerkosaan," terangnya. 

Selain itu, faktor pendukung lainnya yakni gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi secara massal. Ditambah anak-anak yang harus melakukan pembelajar daring dari rumah. 

"Tapi tetap dasarnya KDRT juga dikarenakan faktor ekonomi, pendidikan kemudian karakter dari para pelaku yang memang memiliki tipikal agresif dan dominan. Yang kemudian diperburuk dengan kondisi saat ini yang tidak bisa ngapa-ngapain. Lalu dilampiaskan kepada anggota keluarga, seperti anak kandung maupun tiri," bebernya. 

Pada kesempatan yang sama, Ayunda tak lupa menyarankan kepada para pemerhati anak agar bisa lebih berfokus pada edukasi dan sosialiasi pada masyarakat.

Paling minim, gerakan tersebut dilakukan via daring di media sosial. 

"Kemudian dapat memfasilitasi korban yang mengalami hal itu di lingkungan mereka. Seperti bisa menghubungkan kepada pisikolog dan kepolisian. Jadi sifatnya pada edukasi dan melindungi," pungkasnya. (*)