Mudik Dilarang Sedangkan WNA China Bebas Masuk ke Indonesia, Anggota DPR Kritik Pemerintah

Namun, kedatangan WNA China ke Indonesia ini, menjadi sorotan lantaran bertolak belakang dengan larangan ketat bagi masyarakat yang hendak mudik Lebaran.

Mudik Dilarang Sedangkan WNA China Bebas Masuk ke Indonesia, Anggota DPR Kritik Pemerintah
Ilustrasi WNA China/kompas.com

RUBRIK.ID - Berita Nasional yang dikutip RUBRIK.ID tentang masuknya sejumlah WNA China ke Indonesia beberapa hari lalu terus menjadi sorotan.

Masuknya warga negara asing (WNA) asal China ke Indonesia ternyata sudah mendapatkan rekomendasi dari instansi terkait.

Kedatangan WNA tersebut adalah untuk bekerja di proyek strategis nasional.

Namun, kedatangan WNA China ke Indonesia ini, menjadi sorotan lantaran bertolak belakang dengan larangan ketat bagi masyarakat yang hendak mudik Lebaran.

Menanggapi hal ini, sejumlah anggota DPR RI mempertanyakan keputusan pemerintah tersebut.

Sorotan datang dari anggota DPR Fraksi PPP Achmad Baidowi, yang menyayangkan adanya WNA China masuk ke Indonesia.

Awiek, sapaan akrab Achmad Baidowi, menyayangkan masuknya WNA China lantaran peristiwa tersebut terjadi saat Indonesia tengah berusaha melawan COVID-19

"Kami menyayangkan adanya informasi kedatangan WNA China ke wilayah Indonesia menggunakan pesawat carter dan di saat Indonesia sedang berusaha kuat keluar dari ancaman bahaya COVID," kata Awiek seperti dalam keterangannya, Sabtu (8/5/2021).

Awiek mengatakan masuknya WNA China di saat sekarang ini akan tetap menimbulkan pertanyaan publik, apa pun alasannya.

Dia mengaku heran karena saat ini masyarakat tengah dilarang oleh pemerintah untuk melakukan mudik.

"Masuknya WNA China tersebut meskipun dengan dalih proyek strategis dengan dokumen resmi tetap menimbulkan pertanyaan publik.

Pada sisi lain pemerintah melarang mudik untuk membatasi pergerakan manusia agar bisa mencegah penukaran COVID-19.

Anehnya justru WNA China yang di negaranya menjadi sumber penyebaran COVID justru boleh datang ke Indonesia," ucapnya.

Dengan demikian, Awiek meminta agar sementara waktu pemerintah melarang seluruh WNA masuk ke Indonesia.
Ini agar tercipta rasa keadilan bagi masyarakat yang saat ini tengah dilarang mudik.

"Atas dasar itu, maka pihak terkait seperti Kemenlu, Kemenkumham, dan Satgas COVID harus berkoordinasi dengan baik untuk sementara waktu melakukan pencegahan terhadap WNA.

Hal ini dilakukan agar tercipta keadilan perlakukan di saat masyarakat di larang mudik. Jika alasannya WNA tersebut dalam kondisi sehat saat datang ke Indonesia. Bukankah warga yang mau mudik juga dalam keadaan sehat?" tuturnya.

Bukan hanya Awiek, anggota Komisi IX Fraksi PKS Netty Prasetyani Aher juga bertanya-tanya dengan keputusan pemerintah meloloskan WNA China masuk ke Indonesia di saat masyarakat tengah dilarang mudik.

Keputusan ini, menurutnya, akan menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.

"Tentu saja masyarakat akan bertanya-tanya, kenapa WN China dibiarkan masuk ke Indonesia, padahal masyarakat dilarang mudik dan dilakukan banyak penyekatan. Jangan sampai publik menilai pemerintah inkonsisten dalam kebijakan pengendalian COVID-19," ucapnya.

Karena itu, Netty meminta agar pemerintah menjelaskan hal ini kepada masyarakat agar tidak menjadi bola liar.

Dia beralasan masyarakat saat ini tengah resah lantaran dilarang mudik, yang merupakan tradisi setiap tahun.

"Agar isu ini tidak menjadi bola liar, pemerintah harus gamblang menjelaskan ke publik alasan dan tujuan mereka masuk Indonesia. Masyarakat sedang sensitif dan resah karena pelarangan mudik lebaran yang merupakan tradisi tahunan, apalagi tahun sebelumnya juga sudah terjadi pelarangan mudik. Pemerintah seharusnya peka. Masyarakat dilarang mudik, tapi WN China bisa masuk ke Indonesia. Bagaimana masyarakat bisa menerima fakta ketidakadilan ini," pungkasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di detik.com dengan judul 'Anggota DPR PPP dan PKS Kritik Masuknya WNA China Sedangkan Mudik Dilarang' https://news.detik.com/berita/d-5562631/anggota-dpr-ppp-dan-pks-kritik-masuknya-wna-china-sedangkan-mudik-dilarang