Miris! Diduga Cemburu, Seorang Suami di Samarinda Aniaya Istri Pakai Senjata Tajam

Motifnya, pelaku diduga cemburu karena sang istri dicurigai telah bermain gila dengan laki-laki lainnya

Miris! Diduga Cemburu, Seorang Suami di Samarinda Aniaya Istri Pakai Senjata Tajam
SW saat diamankan petugas bersama barang bukti sebilah sajam dan kendaraan yang digunakannya saat melakukan aksi penikaman tersebut/IST

RUBRIK.ID, SAMARINDA - Diduga akibat cemburu buta yang belum terbukti membuat seorang pria nekat menikam istrinya dua kali ditempat umum pada Jumat (24/7/2020) malam lalu.

Informasi diterima, kejadian tersebut tepatnya terjadi pada pukul 20.30 Wita di Jalan Gerilya No 37, RT 26, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang tepatnya di sebuah warung jajanan tahu kremes.

Informasi diterima, pelaku pria 39 tahun berinisial SW. Korbannya, perempuan 25 tahun berinisial SD. Motifnya, pelaku diduga cemburu karena sang istri dicurigai telah bermain gila dengan laki-laki lainnya.

Namun tuduhan pelaku saat itu tak memiliki bukti. Hanya saja, ia yang sudah terbakar amarah kemudian nekat menghampiri tempat kerja istrinya itu.

Singkat cerita, penganiayaan hingga aksi penikaman pun dilakukan si pelaku kepada istrinya. Untungnya, korban sempat mengelak dan senjata tajam yang didaratkan si pelaku itu hanya menggores bagian paha dan dada kirinya. 

"Setelah kejadian korban langsung memberikan laporannya dan kami langsung melakukan penyelidikan awal terhadap kasus tersebut," ungkap Kanit Reskrim Polsek Sungai Pinang, Iptu Fahrudi saat dikonfirmasi, Selasa (28/7/2020) hari ini. 

Setelah mendapatkan alat bukti dan mengetahui identitas pelaku, polisi segera melakukan pengejaran.

Tiga hari setelah kejadian, pelaku akhirnya diamankan pada Senin (27/7/2020) kemarin di Kawasan Handil D, Kutai Kartanegara. Keberadaan pelaku sendiri diketahui ditempat kakak kandungnya untuk mengamankan diri. 

"Setelah kami mengetahui keberadaannya, tadi malam langsung kami amankan, bersama dengan barang bukti sebilah badik," tandasnya.

Atas perbuatanya pelaku dijerat dengan pasal 44 UU RI No.23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, dengan ancaman maksimal empat bulan  atau denda paling banyak Rp 5 juta. (*)