Kematiannya Picu Aksi Ricuh di AS, Ini Sosok Mendiang George Floyd

Kematiannya Picu Aksi Ricuh di AS, Ini Sosok Mendiang George Floyd
RUBRIK.ID - Kematian George Floyd telah memicu unjuk rasa besar-besaran di seluruh Amerika Serikat (AS). Di berbagai kota, dari New York, Los Angeles hingga Washington, demonstran turun ke jalan dengan tuntutan mengakhiri kebrutalan polisi dan kekerasan rasial.\n\nGeorge Floyd meninggal dunia setelah seorang polisi menindih lehernya dengan lutut saat melakukan penangkapan pada 25 Mei 2020. Di AS, ini bukan kali pertama warga kulit hitam meninggal dunia di tangan polisi.\n\nGeorge Floyd lahir di North Carolina, lalu menghabiskan masa mudanya di Houston, Texas. Dengan tubuh besar setinggi 2 meter, Floyd dikenal sebagai "raksasa lembut".\n\nIa adalah atlet sepak bola dan bola basket berbakat selama di sekolah. Salah satu mantan teman sekelas Floyd, Donnell Cooper, mengatakan ia memiliki kepribadian yang bersemangat, tapi sangat lembut.\n\nKehidupan yang sulit membuat Floyd tidak menyelesaikan sekolah dan mulai membuat musik dengan grup hip-hop yang bernama Screwed Up Click.\n\nPada 2007, Floyd ditangkap polisi setelah melakukan perampokan bersenjata. Dia dijatuhi hukuman lima tahun penjara setelah mengajukan banding pada tahun 2009.\n\nDikutip dari Sky News, 30 Mei 2020, George Floyd pindah ke Minneapolis dari Houston untuk mengubah hidupnya.\n\nIa menjalani dua pekerjaan, satu sebagai pengemudi truk dan satu lagi sebagai penjaga keamanan di restoran Conga Latin Bistro. Seorang pelanggan Conga, Jessi Zendejas mengenal Floyd sebagai seorang yang ramah.\n\n?Dia menyukai pelukan. Dia senang menyambut orang-orang dan melibat mereka Bahagia,? katanya.\n\nFloyd merupakan ayah dari seorang anak perempuan berusia enam tahun yang tinggal di Houston bersama ibunya, Roxie Washington.\n\nKepada Houston Chronicle, Washington menyatakan bahwa ia adalah ayah yang baik ketika mereka membesarkan putri mereka, Gianna, bersama-sama.\n\nFloyd juga meninggalkan seorang pacar, Courteney Ross, yang mengatakan terpukul atas kematiannya. Menurutnya, Floyd menyukai Minneapolis karena orang-orangnya.\n\n"Bangun pagi ini untuk melihat Minneapolis terbakar adalah sesuatu yang akan menghancurkan Floyd," katanya kepada Star Tribune.\n\nPenangkapan George Floyd George Floyd ditangkap setelah seorang pemilik toko melaporkan dugaan pemalsuan cek senilai US$ 20 atau sekitar Rp 300 ribu. Dalam video viral berdurasi sekitar 8 menit, Floyd dengan tangan terborgol di punggungnya terus merintih kesakitan.\n\n"Tolong, tolong, saya tidak bisa bernapas". "Perut saya sakit. Leher saya sakit. Tolong, tolong. Saya tidak bisa bernafas," ujarnya dengan kepala ditekan ke aspal.\n\nIa terus merintih hingga hidungnya berdarah dan tak sadarkan diri. Namun sang polisi, Derek Chauvin, baru melepas tekanan lututnya saat tim medis datang.\n\nTeknik menekan leher dengan lutut dalam penangkapan seperti yang dialami oleh George Floyd memang tercatat dalam buku pedoman kepolisian Minnesota.\n\nDi dalamnya disebutkan bahwa petugas dilatih tentang cara menekan leher, namun tanpa memberikan tekanan langsung ke jalur pernapasan. Jika dilakukan dengan benar, Teknik ini seharusnya tidak mematikan.\n\nDerek Chauvin kini ditahan dengan tuduhan pembunuhan. Sedangkan tiga polisi lain yang terlibat dalam penangkapan itu kini telah dipecat. (*)\n\nArtikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul "Mengenal George Floyd yang Kematiannya Memicu Unjuk Rasa Besar di AS