Jalin Kesepakatan dengan UEA, Komunitas Yahudi yang Tersisa di Yaman Akan Berimigrasi ke Abu Dhabi 

Sampai saat ini dilaporkan ada 40 orang etnis Yahudi di Yaman yang sudah bersedia pindah. Sedangkan lainnya harus diyakinkan terlebih dulu bahwa mereka tidak akan kesulitan beradaptasi dengan penduduk di UEA.

Jalin Kesepakatan dengan UEA, Komunitas Yahudi yang Tersisa di Yaman Akan Berimigrasi ke Abu Dhabi 
Ilustrasi etnis Yahudi di Yaman/cnnindonesia.com

RUBRIK.ID - Berita Mancanegara yang dikutip RUBRIK.ID tentang Etnis Yahudi yang tersisa di Yaman dilaporkan akan dipindahkan ke Abu Dhabi.

Komunitas Yahudi yang tersisa di Yaman akan berimigrasi ke Abu Dhabi setelah kesepakatan damai yang dibuat antara UEA dan Israel.

Menurut seorang rabi Yaman, rencananya akan ada 100 orang Yahudi dipindahkan ke UEA, meskipun perkiraan sebelumnya dari komunitas tersebut dikatakan hanya 50 atau kurang.

Menurut Al-Araby, permintaan itu disampaikan oleh pemerintah Amerika Serikat yang menjadi penengah kesepakatan antara Israel dan UEA. Sedangkan UEA meminta bantuan Iran untuk memindahkan para etnis Yahudi dari Yaman.

Sebab, Iran disebut menjadi pendukung kelompok pemberontak Houthi di Yaman, yang saat ini terlibat peperangan dengan pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

Sampai saat ini dilaporkan ada 40 orang etnis Yahudi di Yaman yang sudah bersedia pindah. Sedangkan lainnya harus diyakinkan terlebih dulu bahwa mereka tidak akan kesulitan beradaptasi dengan penduduk di UEA.

"Mereka mendengar dari sejumlah kerabat dan saudara mereka yang pindah ke Israel jauh sebelum mereka, dan mengatakan bahwa negara itu tidak cocok dengan mereka. AS juga tidak cocok dengan gaya hidup mereka.

Mereka mencari negara Arab yang setuju dan mau menerima mereka, dan ada sejumlah negara yang mungkin mau menerima mereka dengan dibantu AS.

Kemungkinan tidak lama lagi kita akan melihat etnis Yahudi Yaman yang bermukim di negara Arab, tanpa perlu khawatir keselamatan dan keyakinan mereka terancam," kata rabi itu.

Sekitar 50 ribu etnis Yahudi di Yaman diangkut ke Israel setelah negara itu dideklarasikan pada 1948. Kegiatan pemindahan itu berjuluk Operasi Karpet Ajaib yang digelar pada 1949 sampai 1950.

Permasalahan yang terjadi selama ini dalam proses integrasi etnis Yahudi asal Yaman di Israel adalah badan yang mengurus mereka mewajibkan para Yahudi itu untuk mengikuti seluruh tata cara ibadah dan aturan yang berlaku di Israel. Sebagian aturannya diyakini bertentangan dengan kebiasaan dan budaya yang mereka jalani selama ini.

Selain itu, bayi-bayi milik etnis Yahud Mizrahi yang berasal dari Yaman kerap diculik kemudian diberikan atau dijual kepada kelompok Yahudi Ashkenazi yang berasal dari kalangan ekonomi mapan.

Di Yaman, etnis Yahudi Mizrahi juga terancam dengan para pemberontak Houthi. Para pemberontak dilaporkan memburu, menangkap akibat keyakinan yang mereka anut, dan memaksa para etnis Yahudi itu pindah.

AS memberi iming-iming bantuan anggaran kepada sejumlah negara di kawasan Timur Tengah hingga Afrika untuk mendukung normalisasi hubungan dengan Israel.

Dia juga mengusulkan tukar guling lahan antara Israel dan Palestina.

Negara-negara Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di kawasan Timur Tengah dan Afrika yang selama ini mendukung kemerdekaan Palestina dilaporkan terpecah menanggapi usulan Trump.

Sebagian terpikat karena tengah menghadapi kesulitan ekonomi ditambah ancaman krisis akibat pandemi virus corona.

Kesepakatan antara UEA dan Israel adalah babak baru dari upaya Presiden AS, Donald Trump, untuk meloloskan rencananya terkait proses perdamaian Timur Tengah.

Sedangkan beberapa negara lainnya, seperti Iran, tetap menolak usulan itu.

Proposal yang diajukan Trump juga bertujuan untuk merangkul negara-negara Liga Arab dan OKI di Timur Tengah untuk membendung pengaruh Iran. (*)

Artikel ini telah tayang di cnnindonesia.com dengan judul "Diancam Pemberontak, Yahudi di Yaman Akan Diungsikan ke UEA" https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200819154733-120-537383/diancam-pemberontak-yahudi-di-yaman-akan-diungsikan-ke-uea