Ini Cara Yunani Sindir Turki Setelah Shalat Jumat Digelar di Hagia Sophia

Ini Cara Yunani Sindir Turki Setelah Shalat Jumat Digelar di Hagia Sophia
Hagia Sophia (Euronews)

RUBRIK.ID - Berikut ini berita Internasional yang disajikan RUBRIK.ID tentang Yunani tak tinggal diam setelah Shalat Jumat resmi digelar di Hagia Sophia, beri sindiran keras ke Turki.

Pada Jumat kemarin, warga Turki resmi menjalankan Shalat Jumat di Hagia Sophia, sekaligus menandakan perubahan status bangunan bersejarah itu menjadi Masjid.

Berubahnya status Hagia Sophia menjadi Masjid, mendatangkan reaksi keras dari Yunani.

Melalui Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis, Yunani melontarkan sindiran setelah Hagia Sophia difungsikan sebagai Masjid oleh pemerintah Turki.

Presiden Recep Tayyip Erdogan memimpin Shalat Jumat unruk pertama kalinya sejak 86 tahun terakhir, sejak statusnya diubah pada awal Juli ini.

Keputusan Erdogan mengembalikan status Hagia Sophia menjadi Masjid tak hanya disesalkan negara Barat, namun memantik kemarahan Yunani.

"Apa yang terjadi hari ini (di Istanbul) bukanlah unjuk kekuatan. Tetapi bukti kelemahan," sindir PM Mitsotakis dalam keterangan resmi.

Klik Berita Terkait:

Hagia Sophia Sudah Sah Jadi Masjid, Mufti Agung Mesir Klaim Dilarang dalam Islam

Setelah Hagia Sophia Resmi Jadi Masjid, Gambar Maria dan Yesus Bukan Dihapus, Turki Janji Lestarikan

Demi Yakinkan Dunia, Presiden Turki Erdogan Bakal Undang Paus Fransiskus ke Hagia Sophia


Dilansir AFP (24/7/2020), dia mengklaim pengembalian status itu "tidak akan bisa menghalangi pancaran sebuah monumen yang jadi warisan global".

"Terutama bagi kami Kristen Ortodoks.

Hagia Sophia saat ini ada di hati kami melebihi apa pun.

Ada dalam detak jantung kami," kata dia.

Pada tengah hari waktu setempat, bel di gereja seantero Negeri "Para Dewa" dikumandangkan dan bendera dinaikkan setengah tiang sebagai bentuk protes.

Kemudian Kepala Gereja Yunani, Uskup Agung Ieronymos menyatakan bahwa perubahan bangunan era Kekaisaran Bizantium itu adalah "tindakan menjijikkan".

Ieronymos mengatakan, dia akan mengadakan pelayanan khusus di Athena malam harinya, dan mengidungkan Nyanyian Rohani Akathist untuk menghormati Perawan Maria.

Berdasarkan tradisi Yunani, ibadah itu pernah digelar di Hagia Sophia pada malam ketika Bizantium jatuh ke tangan Turki Ottoman pada 1453.

" Hagia Sophia tak hanya simbol keyakinan kami.

Tetapi juga monumen universal untuk kebudayaan," kata Uskup Agung Ieronymos.

Kelompok keagamaan maupun nasionalis di seluruh Yunani rencananya akan menggelar aksi protes di Athena dan Thessaloniki Jumat waktu setempat.

Bangunan yang masuk ke dalam Warisan Kebudayaan Dunia UNESCO tersebut meripakan katedral selama masa pemerintahan Bizantium.

Tetapi setelah Turki Ottoman menaklukkan Konstantinopel pada 1453, kubah dengan nama lain Ayasofiya itu berubah menjadi Masjid.

Kemudian pada 1934, ketika Mustafa Kemal Ataturk menjadi presiden pertama Turki modern, bangunan kuno tersebut difungsikan sebagai museum.

Sorotan muncul setelah pada awal Juli ini, pengadilan tinggi Turki mencabut dekrit 1934 dan mengembalikan Hagia Sophia sebagai Masjid.

Presiden Recep Tayyip Erdogan menindaklanjuti keputusan tersebut dengan mengumumkan bahwa Hagia Sophia bisa digunakan untuk shalat.

Presiden Erdogan bersikukuh pada rencananya meski dua kekuatan dunia, AS dan Rusia, serta pemimpin keagamaan seperti Paus Fransiskus menentang.

Athena sendiri menyatakan langkah Ankara "provokasi bagi peradaban dunia", dan pernah mengancam bakal mengubah rumah masa kecil Mustafa Kemal Atatutrk di sebagai museum genosida.

(*)

Artikel ini bersumber dari Kompas.com dengan judul "Hagia Sophia Menjadi Masjid, Begini Sindiran Yunani ke Turki", https://www.kompas.com/global/read/2020/07/24/212839670/hagia-sophia-menjadi-masjid-begini-sindiran-yunani-ke-turki?page=2.
Penulis : Ardi Priyatno Utomo
Editor : Ardi Priyatno Utomo