Di Era Jokowi, Berikut Daftar Aset Keluarga Soeharto yang Disita Negara

Pengambil alihan aset sudah dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 19 Tahun 2021 tentang mengambil alih pengolahan TMII yang diterbitkan Presiden Joko Widodo.

Di Era Jokowi, Berikut Daftar Aset Keluarga Soeharto yang Disita Negara
Gedung Granadi/merdeka.com

RUBRIK.ID -  Berita Nasional yang dikutip RUBRIK.ID tentang aset yang dikelola maupun milik mantan Presiden Soeharto, satu per satu disita negara.

Pemerintah mengambil alih sejumlah aset yang dikelola keluarga mantan Presiden Soeharto.

Pengambil alihan aset sudah dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 19 Tahun 2021 tentang mengambil alih pengolahan TMII yang diterbitkan Presiden Joko Widodo.

Sebagaimana diketahui, awalnya TMII dikelola oleh Yayasan Harapan Kita, milik keluarga Presiden Soeharto.

Kini, lewat Perpres Nomor 19 Tahun 2021 tersebut, aset milik keluarga Soeharto itu diambil alih menjadi milik negara.

Dalam proses pengalihan ini, TMII tetap beroperasi seperti biasa.

Namun, Yayasan Harapan Kita diwajibkan melaporkan pengelolaannya terhadap TMII sejak tahun 1977 dalam jangka waktu 3 bulan.

Berikut daftar aset keluarga Soeharto yang disita negara:
TMII

Adapun alasan utama disitanya TMII oleh negara sebab aset ini tak pernah menyetorkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hanya dibayarkan berupa pajak.

"Penerimaan negara kan ada dua, pajak dan non pajak. Kalau pajak mereka bayar pajak, tapi kalau PNBP memang selama ini belum ada," kata Direktur Barang Milik Negara (BMN) Kementerian Keuangan, Encep Sudarwan dalam bincang bareng DJKN bertema 'Pengambilalihan TMII', Jumat (16/4/2021).

Padahal, berdasarkan audit sementara, TMII memiliki 6 Nomor Urut Pembelian (NUP) tanah senilai Rp 20,5 triliun. Meski belum diketahui berapa nilai bangunannya karena masih ada yang perlu diinventarisasi.

Bangunan yang masih perlu diinventarisasi tersebut yakni 10 kementerian/lembaga (K/L), 31 aset milik Pemerintah Daerah (Pemda), 12 aset yang dikerjasamakan dengan pihak lain dan 18 aset badan pengelola TMII.

"Bentuknya seperti apa dengan swasta, gimana pembagian keuangannya, pegawainya ada berapa. Jadi menyangkut barang, uang, kita akan melakukan audit tanahnya, bangunannya, penerimaannya, pengeluarannya, baru setelah jelas kita lakukan serah terima," kata Encep.

Encep mengatakan setelah TMII resmi dikelola negara, maka bangunannya akan diasuransikan.

Saat ini sedang diaudit bagian mana saja yang dirasa perlu duluan untuk diasuransikan.

"BMN kan rencananya memang diasuransikan termasuk TMII.

Nanti kalau sudah ketahuan semua mana yang perlu diasuransikan, prinsipnya semua BMN harus diasuransikan, namun bertahap ada gedung, kantor dulu," kata Encep.

Gedung Granadi

Selain TMII, sebelumnya pemerintah juga telah menyita Gedung Granadi di Kuningan, Jaksel.

Sebagaimana diketahui, aset tersebut awalnya merupakan milik Yayasan Supersemar yang didirikan oleh Soeharto. Namun, harus disita negara karena terkait kasus hukum penyelewengan duit negara.

Yayasan Supersemar disebut telah melakukan penyelewengan dana negara hingga Rp 4,4 triliun.
Berdasarkan putusan yang dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), yayasan tersebut menyelewengkan dana yang dihimpun dari masyarakat.

Dana itu seharusnya disalurkan untuk pendidikan, seperti beasiswa, nyatanya malah diselewengkan.

Villa Megamendung

Selain itu, Villa Megamendung juga ikut disita negara. Perkaranya masih serupa dengan Gedung Granadi yakni terkait kasus penyelewengan dana oleh Yayasan Supersemar. Aset ini sudah disita sejak 2018 lalu.

Aset yang sudah disita oleh negara itu otomatis menjadi BMN dan akan dikelola oleh pemerintah.

BMN terdiri dari dua yakni pengguna dan pengelola.

Untuk Kemenkeu bertugas sebagai pengelola barang, sedangkan Sekretariat Negara (Setneg) statusnya sebagai pengguna barang. (*)

Artikel ini telah tayang dikutip detik.com dengan judul 'Deretan Aset Keluarga Cendana yang Diambil Alih Negara' https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5537668/deretan-aset-keluarga-cendana-yang-diambil-alih-negara/2