Begini Kronologi Kopassus Menyerbu KKB Papua dan Bebaskan 347 Warga

Begini Kronologi Kopassus Menyerbu KKB Papua dan Bebaskan 347 Warga
RUBRIK.ID - Pasukan elite TNI, Kopassus pernah diterjunkan untuk menyerang kelompok kriminal bersenjata atau KKB Papua.\n\nMisi Kopassus kala itu adalah menyelamatkan sekitar 347 warga yang disandera KKB Papua.\n\nMelansir dari Tribunnews dalam artikel 'Kronologi Operasi Pembebasan 347 Sandera di Papua Dalam Waktu 78 Menit', operasi penyelamatan itu digelar Jumat (17/11/2017).\n\nKepala Penerangan Kodam Chendrawasih, Kolonel Muhammad Aidi, menyebut anggota TNI yang berpartisipasi dalam operasi itu, adalah gabungan dari Grup 1,2,3 dan Sat81/Gultor Kopassus TNI AD, serta Yonif-751/Raider dan Tontaipur Kostrad TNI AD.\n\n? Bermimpi Aneh Sebelum Gempur KKB Papua, Prajurit TNI AD Tak Gentar dan Sukses Selamatkan 9 Sandera\n\n? Tersesat Saat Buru KKB Papua Kelly Kwalik, Prajurit Elite TNI Alami Hal Tak Masuk Akal, ini Kisahnya\n\n? Setelah Gempur Habis-habisan KKB Papua, Kepala Prajurit RPKAD Nyaris Kena Peluru, Begini Kisahnya\n\nSaat dihubungi Tribunnews.com, ia menjelaskan dalam operasi tersebut pasukan Kopassus ditugaskan untuk menyerbu penyandera yang menguasai desa Kimberley.\n\nSementara pasukan lainnya ditugaskan untuk menyerbu desa Binti.\n\nMereka sejak pagi hari, sudah berhasil mendekati lokasi target masing-masing, tanpa diketahui para pelaku.\n\n"Pada waktu yang dikoordinasikan, pada jam 'J' jam tujuh kosong-kosong (WIT), pasukan mulai bergerak ke posisi kelompok KKB Papua yang sedang berkumpul," ujarnya.\n\nPada pukul 07.45 WIT, akhirnya sebuah bom diledakan sebagai penanda pasukan untuk bergerak.\n\nAnggota Kopassus TNI AD yang ditugaskan membebaskan sandera di aera Kimbley, langsung menghampiri kandang babi di desa itu, tempat para penyandera berkumpul.\n\n"Mengetahui Pasukan yang tiba-tiba Muncul diluar area pemukiman, Kelompok KKB berhamburan melarikan diri tanpa bisa melakukan Perlawanan," ujarnya.\n\nPada pukul 08.18 WIB, seluruh wilayah yang dikuasai oleh KKB Papua sudah bisa dikuasai anggota TNI.\n\nSemua anggota KKB Papua yang sejak sepekan terakhir melakukan penyanderaan, kabur ke arah hutan lalu melepaskan tembakan dari kejauhan.\n\nSaat itu pasukan tidak melakukan pengejaran ke hutan, karena kondisi cuaca yang kurang memadai.\n\nSetelahnya tim yang berhasil membebaskan pada sandera itu melaporkan ke Pangdam Chendrawasih, Mayjend George Elnadus Supit dan Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafli Amar.\n\nTak lama kemudian Tim Satgas Terpadu TNI - Polri, termasuk Pangdam Chendrawasih dan Kapolda Papua tiba di lokasi melaksanakan evakuasi.\n\nSekitar pukul 14.00 WIT proses evakuasi berhasil dilaksanakan dengan jumlah korban Sandera 347 orang terdiri dari warga Papua dan Luar Papua.\n\nSaat evakuasi dilakukan, sejumlah anggota KKB Papua sempat melakukan penembakan ke arah rombongan, namun tak satupun menjadi korban.\n\nGabungan Kopassus & Kostrad lawan ratusan KKB Papua\n\nDi misi sebelumnya, pasukan gabungan Kopassus dan Kostrad juga pernah diterjunkan untuk melawan KKB Papua pimpinan Kelly Kwalik, demi menyelamatkan 26 orang sandera.\n\nDilansir dari buku 'Sandera, 130 Hari Terperangkap di Mapenduma' (1997), 26 orang tersebut merupakan peneliti anggota tim Ekspedisi Lorentz 95 dan berhasil diselamatkan oleh Kopassus dan Kostrad setelah 130 hari disandera.\n\nMeski prajurit Kopassus & Kostrad telah diturunkan, penyanderaan 26 peneliti oleh KKB Papua pimpinan Kelly Kwalik itu mengakibatkan tewasnya 2 orang sandera.\n\nPenculikan itu dipimpin oleh tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM), Kelly Kwalik, yang tewas pada 2009 lalu.\n\nTerkait penyanderaan Tim Lorentz ?96 dan bagaimana mereka diselamatkan, kisah ini juga pernah diulas secara khusus oleh majalah Intisari.\n\nTim Lorentz ?95 dibentuk di Jakarta berdasarkan kerjasama antara Biological Science Club (BSsC) dari Indonesia dan Emmanuel College, Cambridge University.\n\nLembaga BSsC merupakan organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) independen yang didirikan pada 7 September 1969 oleh sekelompok mahasiswa ilmu Biologi Universitas Nasional (UNAS), Jakarta.\n\nTujuan ekspedisi ini adalah untuk melakukan penelitian terhadap beragam flora dan fauna di Desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jawawijaya\n\nTim ini terdiri atas 11 peneliti.\n\nSelain meneliti flora-fauna, mereka juga akan mengaji keterkaitan objek penelitian dengan kehidupan dan pola pikir tradisional suku Nduga di sana.\n\nHasil penelitian ini nantinya diharapkan bisa menjadi masukan bagi usaha-usaha pelestarian dan pengembangan Taman Nasional Lorentz.\n\nFoto Tim Lorentz 1996 yang disandera OPM\nFoto Tim Lorentz 1996 yang disandera OPM (ICRC via Majalah Intisari)\nPenelitian dilakukan antara bulan November 1995 dan Januari 1996.\n\nAnggota tim dari Indonesia terdiri dari Navy Panekanan (28), Matheis Y.Lasamalu (30), Jualita Tanasale (30), Adinda Arimbis Saraswati (25).\n\nSementara anggota tim dari Inggris terdiri dari Daniel Start (22), William ?Bill? Oates (23), Annette van der Kolk (22), dan Anna Mclvor (21).\n\nMereka juga dibantu oleh antropolog Markus Warip (36) dari Universitas Cendrawasih dan Abraham Wanggai (36) dari Balai Konservasi Sumber Daya ALam (BKSDA) Kantor Wilayah Kehutanan Irian Jaya.\n\nBersama mereka ada juga Jacobus Wandika, putra daerah suku Nduga, yang merupakan antropolog lulusan Universitas Cendrawasih dan murid Markus Warip.\n\nTidak ada gangguan berarti yang dialami tim selama menjalankan misinya.\n\nMeski begitu, sebelum keberangkatan, tim tahu jika di sana terdapat kelompok Gerakan Pengacau Keamanan ? Organisasi Papua Merdeka (GPK ? OPM) yang mengaku kecewa dengan Pemerintah Pusat Republik Indonesia.\n\nTanggal 8 Januari menjelang hari-hari kepulangan ke Jakarta, mereka berkumpul di rumah kayu milik Pendeta Adriaan van der Bijl asal Belanda yang sudah menetap di sana sejak tahun 1963.\n\nHari itu sang pemilik rumah sedang pergi, berkeliling ke daerah Mbua dan ALama untuk menyusun kegiatan misionaris bersama istrinya.\n\nTiba-tiba, datanglah sekelompok suku setempat berjumlah puluhan orang berpakaian perang, lengkap dengan tombak.\n\nTak hanya itu, salah satu dari mereka, diduga sebagai komandan, membawa senapan laras panjang M-16 yang diacung-acungkan dan sesekali ditembakkan ke udara\n\nMereka lalu mendobrak mendobrak pintu yang dikunci, memaksa masuk, menyerang, menyandera tim, dan akhirnya membawa seluruh tim peneliti ke hutan pedalaman.\n\nBerita penyanderaan Tim Lorentz mulai beredar di media massa dan menjadi berita besar hingga ke Jakarta bahkan dunia.\n\nPemerintah segera meminta ABRI (TNI) melakukan penyelamatan.\n\nKomandan Jenderal Kopassus saat itu (Mayjen TNI Prabowo Subianto) diputuskan memimpin misi penyelamatan.\n\nBeberapa satuan TNI lainnya seperti pasukan Kostrad juga dilibatkan dalam misi penyelamatan ini.\n\nSekitar lima bulan berlalu, misi pembebasan Tim Lorentz yang disandera oleh KKB Papua pimpinan Kelly Kwalik belum juga membuahkan hasil.\n\nPara KKB Papua terus bersembunyi dan berpindah-pindah tempat sambil mengirimkan beberapa pesan tuntutan mereka kepada Pemerintah RI.\n\nPasukan yang dibawa Kelly Kwalik mula-mula berjumlah 50 orang, kemudian ditambah lagi hingga menjadi 100 orang.\n\nTanggal 7 Mei 1996, satu kompi pasukan batalyon Linud 330/Kostrad di bawah pimpinan Kapten Inf Agus Rochim ikut dikirim ke Timika untuk menambah kekuatan.\n\nKompi dibagi dalam beberapa tim.\n\nSecara berangsur masing-masing tim dikirim ke daerah operasi.\n\nSetelah berbagai upaya dilakukan, Tim Kopassus dan Kostrad berhasil menuntaskan misinya pada tanggal 9 Mei 1996.\n\nTim gabungan Kopassus dan Kostrad itu akhirnya berhasil menyelamatkan para sandera kecuali 2 orang, yaitu Navy dan Matheis yang gugur di tangan keganasan KKB Papua.\n\nArtikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul "KRONOLOGI Kopassus Menyerbu KKB Papua dan Bebaskan 347 Warga, Musuh Berhamburan Tanpa Perlawanan"\n\nhttps://surabaya.tribunnews.com/2020/05/15/kronologi-kopassus-menyerbu-kkb-papua-dan-bebaskan-347-warga-musuh-berhamburan-tanpa-perlawanan?page=all