Bankaltimtara Dapat Tambahan Suntikan Modal dari Pemerintah Daerah, Ini Tanggapan Akademisi  Unmul

Dosen Fakultas Ekonomi Unmul yang akrab disapa Cody tersebut menyebut langkah anggota DPRD Kaltim meminta penjelasan secara rinci terkait bagaimana penggunaan dana penambahan penyertaan modal sudah tepat.

Bankaltimtara Dapat Tambahan Suntikan Modal dari Pemerintah Daerah, Ini Tanggapan Akademisi  Unmul
Hairul Anwar, Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda sekaligus pengamat ekonomi, Kamis (27/8/2020)/IST

RUBRIK.ID SAMARINDA - Rencana penambahan penyertaan modal pemerintah daerah Kalimantan Timur (Kaltim) kepada Bank Pembangunan Daerah, Bankaltimtara senilai Rp 300 miliar di tengah kondisi perekonomian yang menurun akibat dilanda bencana wabah Covid-19 dan masih adanya masalah di internal bank terkait kredit macet menimbulkan pertanyaan dari anggota DPRD Kaltim. 

Hal ini pun turut ditanggapi Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Hairul Anwar.

Dosen Fakultas Ekonomi Unmul yang akrab disapa Cody tersebut menyebut langkah anggota DPRD Kaltim meminta penjelasan secara rinci terkait bagaimana penggunaan dana penambahan penyertaan modal sudah tepat.

"Ya benar saja, karena tugasnya anggota dewan. Begini, jajaran direksi Bankaltimtara ini harus sadar yang mereka pakai itu domainnya keuangan negara. Dalam hal ini yang mewakili rakyat itu DPRD Kaltim jadi kalau mereka bertanya, mau pertanyaan itu miring ke kanan, ke kiri, ke atas atau ke bawah mereka harus jelaskan. Itu salah satu kewajiban mereka karena menggunakan modalnya negara," ujar Cody saat dihubungi awak media melalui sambungan telepon seluler WhatsApp, Kamis (27/8/2020).

Namun, terkait masalah kasus kredit macet yang tengah dihadapi bank Kaltimtara, Cody melihat bahwa  hal tersebut hal yang berbeda.

Ia menyebut saat ini bank lebih memilih tidak ingin kehilangan nasabah selama masih memungkinkan dipertahankan.

"Kasus itu silahkan dilanjutkan kalau memang ada klausul hukumnya. Salah satu alasan bank malas ke ranah hukum adalah bank itu susah urusannya tidak gampang sita aset jual aset segalam macam. Makanya bank itu selalu bertahan selama bisnis orang terus jalan dan masih memungkinkan untuk jalan dia lebih senang mempertahankan," katanya.

Menjabarkan kondisi perekonomian saat ini, kata Cody, jika melihat kondisi normal, salah satu alasan penambahan modal adalah adanya potensi bank mengahasilkan keuntungan untuk menambah pundi-pundi APBD.

Tetapi saat ini kondisi tidak normal.

Namun jika tidak ada suntikan modal untuk pengusaha maka perlahan perekonomian di Kaltim akan semakin terpuruk.

"Karena bank tidak mungkin kasih usaha duit. Jadi pemerintah harus lewat pengusaha. Jadi apa yang harus dilakukan ya menurunkan bunga bank supaya cost bisnis itu turun ya jatuhkan bunga bank, supaya biaya bisnis itu rendah sehingga orang tertarik untuk berbisnis," jelasnya.

Kebijakan ekonomi yang tepat menurut Cody adalah penyertaan modal yang diimbangi dengan penurunan bunga bank. 

"Karena kalau tidak turun yang mau pinjam siapa. Di kondisi seperti ini kita perlu berbisnis tetapi bunganya harus rendah. Satu komponen biaya adalah bunga bank. Jadi para UMKM bisa kembali bergairah," ucapnya.

"Kalau yang dibeli barang-barang impor gak ada gunanya hanya membuat kenyang produsen luar negeri. Tapi kalau kita kucurkan uang lewat bank terus bunganya rendah karena ada duit untuk berbelanja kan kita dapat kiri kanannya. Supply-nya hidup dan roda perekonomian berputar," pungkasnya. (*)