Alarm PBB Imbas Virus Corona Semakin Memburuk, Penduduk Dunia Terancam Kelaparan

PBB memberikan alarm peringatan imbas virus corona semakin memburuk, penduduk dunia terancam bencana kelaparan.

Alarm PBB Imbas Virus Corona Semakin Memburuk, Penduduk Dunia Terancam Kelaparan
ILUSTRASI - Kelaparan mengancam penduduk dunia imbas virus corona (United Way Worldwide)

RUBRIK.ID - Berita Internasional yang disajikan RUBRIK.ID tentang alarm peringatan dari PBB imbas virus corona semakin memburuk, penduduk dunia terancam kelaparan.

Di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung selesai, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberikan alarm peringatan terhadap dunia.

Menurut PBB, ancaman kelaparan sudah tak main-main menghampiri sejumlah negara miskin imbas virus corona

Bahkan PBB memperingatkan 265 juta orang dari penduduk dunia dapat terancam kelaparan pada akhir 2020 akibat pandemi virus corona.

Prediksi tersebut adalah jumlah orang kelaparan yang lebih besar sejak 1990, dan bisa dicegah jika tindakan cepat diambil untuk mengatasinya.

Kepala Urusan Kemanusiaan dan Bantuan Darurat PBB Mark Lowcock memberikan pernyataan mengejutkan pada Kamis (16/7/2020), bahwa dibutuhkan 10,3 miliar dollar AS (Rp 151,3 triliun) untuk mencegah kelaparan yang melanda akibat pandemi virus corona.

Besarnya dana tersebut akibat timbulnya resisi ekonomi global dan pengalihan dana ke aspek kesehatan.

"Pesan saya untuk G-20 adalah tingkatkan sekarang investasi yang relatif sederhana, kita dapat mencegah yang terburuk, termasuk ekspor masalah terburuk dari negara-negara yang paling rapuh," kata Lowcock, seperti yang dilansir dari ABC News pada Jumat (17/7/2020), yang mana pesannya merujuk kepada negara kelompok ekonomi terbesar di dunia.

PBB meluncurkan Rencana Respons Kemanusiaan Global pada Maret, tetapi gagal mencapai tujuan pendanaan.

Saat itu dana yang terkumpul hanya 1,7 miliar dollar AS (Rp 24,97 triliun). Inisiatif PBB tersebut menargetkan 63 negara yang tengah menghadapi krisis kemanusiaan karena Covid-19 dan lockdown, yang saat ini mulai bertambah besar dampaknya.

"Kegagalan untuk bertindak cepat sekarang ini, akan membuat virus corona bebas menyerang dunia, dengan membatalkan pembangunan selama puluhan tahun dan menciptakan masalah generasi yang tragis dan masalah yang dapat diekspor," kata Lowcock.

Lowcock mengatakan kepada ABC News, dia berharap Amerika Serikat (AS) dapat membantu sekitar 30 persen dari angka 10,3 miliar dollar AS (Rp 151,3 triliun).

Sejauh ini, AS telah mengumumkan bahwa akan mengalokasikan dana sebesar 1,5 miliar dollar AS (Rp 22,041 triliun) untuk bantuan internasional, meskipun tidak semua dana tersebut diberikan kepada kelompok-kelompok bantuan dan lembaga internasional yang dikelola Lowcock.

Meskipun pandemi virus corona masih terus memburuk di AS, yang saat ini masih memimpin di peringkat 1 sebagai negara dengan kasus Covid-19 terbanyak, tapi Lowcock menilai AS masih "tetap bangsa yang sangat diperlukan" untuk pendanaan bantuan internasional.

"(Berjalannya pendanaan itu) hanya ketika ada kepemimpinan AS dan mobilisasi orang lain, bahwa ada respons global yang sangat efektif," kata Lowcock.

Ia kemudian juga berpesan, "Tidak seorang pun, termasuk orang AS, yang akan aman dari virus corona ini sampai semua orang aman dari itu (kelaparan)."

Namun, dengan adanya kekurangan peralatan perlindungan diri dan pengujian terhadap Covid-19 yang tidak memadai, beberapa orang mengatakan AS perlu fokus pada pandemi di dalam negerinya sendiri.

Sejauh ini, hanya 0,1 persen dari semua dana darurat AS yang masuk ke kantong bantuan internasional, tetapi sekarang ada momentum untuk angka itu bertambah.

Sekelompok senator bipartisan menulis surat kepada Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell, dan Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer, yang mendesak mereka untuk memprioritaskan "investasi AS yang signifikan dalam respons internasional" dalam paket pendanaan darurat berikutnya.

Di DPR, setidaknya 125 anggota telah menandatangani surat yang serupa kepada pimpinan DPR, memperingatkan, "Kami tidak bisa membiarkan bantuan asing global kekurangan sumber daya karena itu merupakan komponen penting dari tanggapan Covid-19."

Lebih banyak bantuan AS akan mampu membantu mengurangi dampak pandemi virus corona di seluruh dunia.

Lowcock mengatakan AS sebagai negara dengan ekonomi terkaya di dunia lambat untuk bertindak dan "menunggu terlalu lama untuk mengatasi ini."

Dalam nada kritis yang luar biasa, Lowcock telah memohon bantuan yang lebih besar dari AS.

"Saya tidak memiliki pohon uang ajaib, tetapi para donatur bisa melakukannya dan mereka telah menggunakannya untuk melindungi, saya pikir dengan bijak, kepada ekonomi mereka sendiri dan negara mereka sendiri."

"Dan apa yang saya katakan tadi bisa menjadi ide yang sangat bagus untuk menggunakan mungkin 1 persen dari uang mereka untuk tindakan empati dan kemurahan hati manusia untuk melindungi negara-negara miskin," ungkapnya.

Secara khusus, Program Pangan Dunia memperingatkan di awal pekan ini bahwa ada 10 negara dengan total 135 juta orang, telah menghadapi krisis pangan yang serius.

Diantaranya Yaman, Republik Demokratik Kongo, Afghanistan, Venezuela, Ethiopia, Sudan Selatan, Suriah, Sudan, Nigeria, dan Haiti.

Tapi itu bisa hampir 2 kali lipat menjadi 265 juta orang, jika kebutuhan mendesak karena virus corona ini tidak terpenuhi.

Lebih dari 588.000 orang telah meninggal secara global akibat virus corona, yang telah menginfeksi 13,6 juta orang di 216 negara, wilayah maupun teritori.

(*)

Artikel ini telah bersumber dari Kompas.com dengan judul "PBB: Covid-19 Buat 265 Juta Penduduk Dunia Terancam Kelaparan ", https://www.kompas.com/global/read/2020/07/17/182630870/pbb-covid-19-buat-265-juta-penduduk-dunia-terancam-kelaparan?page=all#page2.
Penulis : Shintaloka Pradita Sicca
Editor : Aditya Jaya Iswara