PAREPARE,RUBRIK.ID–Ada tiga bentuk kemenangan yang diperoleh umat Islam yang tekun melaksanakan puasa Ramadhan yaitu kemenangan spiritual, kemenangan emosional dan kemenangan intelektual. Hal ini disampaikan Dr. H. Mustaqim Pabbajah., S.Fil., M.A saat membacakan khutbah salat idul Fitri di lapangan Andi Makkasau, Kota Parepare, Senin(31/3/2025).
Cucu dari Pendiri DDI dan Ulama Kharismatik di Sulawesi AGH. Muhammad Abduh Pabbajah ini menjabarkan kemenangan spiritual, yaitu kemenangan jiwa dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam Q.S Asyam : 9-10 yang berbunyi “Sungguh telah menang dan beruntung orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”
“Dengan puasa Ramadhan, jiwa kita akan senantiasa bersih dan suci dari berbagai penyakit sirik, sombong, hasad, dengki, dan berbagai penyakit hati lainnya, karena puasa Ramadhan telah melatih kita untuk senantiasa menahan diri dari segala hal yang merusak jiwa kita,”jelasnya.
Selanjutnya kata Akademisi Akademisi Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) tersebut, puasa ramadan juga menjadikan umat Islam meraih kemenangan emosional .
Ibadah Ramadhan lanjutnya akan membimbing umat Islam menuju kemenangan emosional. Emosi adalah sifat perilaku dan kondisi perasaan yang terdapat dalam diri seseorang. Ia bisa berupa rasa ingin marah, rasa takut, rasa cinta atau keinginan yang kuat untuk mencintai dan membenci, rasa cemas, rasa minder dan lain sebagainya.
“Emosi yang menang adalah emosi terkendali, yang dalam istilah agama disebut sabar. Jika kita perhatikan teori tentang kecerdasan emosi yang dijelaskan oleh ahli psikologi, ternyata konsep kecerdasan emosi ini berbanding sama dengan konsep kesabaran dalam Islam,”bebernya
” Sabar dalam Islam bukanlah satu kelemahan, tetapi justru merupakan satu kekuatan. Al-Quran menjelaskan bahwa satu orang yang sabar mampu mengalahkan sepuluh lawan dalam pertempuran, atau setidaknya mereka mampu menghadapi lawan sebanyak dua kali jumlah mereka (QS al-Anfal : 65-66),”lanjutnya.
Mustaqim mengatakan Poin ketiga kemenangan intelektual dimana Ibadah Ramadhan akan melahirkan sosok-sosok pribadi muslim yang menang secara intelektual.
Kemenangan intelektual kata dia ditandai dengan kecerdasannya dalam memahami realita yang selalu dapat memberikan keseimbangan pada diri dan pemikiran.
Satu hal yang perlu kita pahami jelas putra dari Tokoh Agama dan Masyarakat Parepare Almarhum K.H. Muh Tahir Pabbajah (Ketua Dewan Masjid Indonesia dan Ketua NU kota Parepare) bahwa terminologi kecerdasan intelektual dalam Islam tidak sama dengan teori kecerdasan yang dipahami oleh banyak orang.
“Selama ini orang yang mengukur kecerdasan lewat pencapaian angka-angka dalam batas tertentu , sehingga seorang anak dikatakan cerdas apabila nilai rata-ratanya di sekolah sembilan atau sepuluh. Seorang mahasiswa dianggap cerdas ketika ia sudah mampu menghapal banyak diktat perkuliahannya lalu menghasil nilai Indeks Prestasi tertinggi, begitu seterusnya,”katanya mencontohkan .
Sementara didalam Islam beber Mustaqim kesuksesan dan kecerdasan diukur secara proporsional antara kualitas dan kuantitas.
“Kecerdasan ada pada mereka yang menempatkan ilmu di hati – bukan sekedar di lidah dan retorika saat berdiskusi tanpa disertai dengan aksi,”terangnya.
Mustaqim merujuk pada firman Allah SWT al-Imraan/3: 133-134] yang berbunyi “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
Dari Perintah Allah tersebut jelasnya lagi dapat dilihat bahwa sebagai umat Islam kita perlu saling memaafkan dan berhubungan baik antar sesama manusia, agar terhindar dari sikap bodoh dan apatis.
“Hal itu juga sejalan dengan pepatah Bugis , Melleki tapada melle; tapada mamminanga; asiyallabuang.” Pepatah tersebut memiliki arti marilah kita menjalin hubungan baik, supaya
apa yang dicita-citakan bisa menjadi kenyataan. Melalui pepatah ini ada nasihat bahwa kesuksesan sendiri atau bersama juga ada andil dari campur tangan orang lain,”tutupnya.





